Total Pageviews

Saturday, October 27, 2018

IMITASI DAN KAYYISA

Saya berdoa terus agar Kayyisa menjadi muslimah yang baik.

Dia sibuk juga kalau lihat saya memakai telekung. Jika terdengar azan dari surau berdekatan, dia akan segera menyebut, “Allah hu Akbar, semayang semayang…” dalam pelat kanak-kanak berusia dua tahun enam bulan. Telekong yang saya beli di Bukit Tinggi, Sumatera itulah yang dipakainya. Solatnya sekejap saja, selebihnya dia bermain-main. Jika solat, dia berbunyi-bunyi sedikit gaya orang membaca surah.

Malam tadi, saya terdengar Kayyisa seperti sedang mengaji. Bunyi dia membaca Bismillah dan menyebut Yassiiiiin. Saya mengintai ke dalam bilik. Dia sedang menghadap dinding. Satu demi satu novel berbahasa Inggeris mamanya diambil. Dibuka, baca Bismillahirrahmanirrahiiimm… yaaaasiiiiinnn. Kemudian mengambil buku itu, menjunjung, mencium dan meletakkan ke dada. Diambilnya buku lain dengan perlakuan serupa.

Imitasi daripada apa yang dia selalu nampak saya lakukan.

Saya mengajarnya membaca sebuah buku bertajuk Si Cantik dengan menukarkan watak-watak kepada dirinya, mama, papa dan maksu. Dia seorang yang kuat ingatan. Kadang-kadang saya mendengarnya membuka buku tersebut dan meniru gaya suara saya atau aksi lain yang saya lakukan semasa membacakannya buku tersebut.

Imitasi. Dan saya bimbang juga dia meniru perlakuan-perlakuan negatif daripada kami, orang-orang dewasa yang tinggal bersama-samanya.

No comments: