Total Pageviews

Saturday, June 21, 2014

Pada Saat...

Pada saat kamu ingin menyerah kalah, ingatkan kembali alasan mengapa kamu selama ini dapat bertahan.

Sungguh.

Sebagai manusia biasa (dan kita sering menggunakan alasan klise ini), ada waktu-waktunya kita seperti segerombolan askar yang membuang senjata ke tanah dan meletakkan tangan di atas kepala. Ini bermakna kekalahan sudah membunyikan wiselnya.

Tetapi saya masih ingat benar kata-kata seorang rakan, Encik Zul, di sebuah pertandingan antara kolej lama dahulu. Dia mengungkapkan kata-kata yang sangat bermotivasi. Kepada para pelajar, dia menyebut, “kita tidak kalah selagi wisel belum dibunyikan. Maka, selagi kita belum mendengar tiupan wisel, kita masih berpeluang untuk menang”.

Itulah ayat yang diulang-ulang dan terus memantak masuk ke otak.

Kita tidak perlu berasa diri terlalu sempurna sehingga mewujudkan elemen-elemen hipokrasi yang memualkan. Memang emosi bukan seperti ketulan emas yang keras dan sukar dicairkan. Kita boleh mengawalnya tetapi ia bukan statik. Masalah kita tidak sama. Begitu juga dengan latar belakang hidup.

Sesekali kita akan menjadi seperti askar yang kalah itu tadi.

Dan sesekali kita menjadi orang yang sedang mengibar bendera dan ber”selfie” di puncak gunung yang tertinggi di dunia.

Begitulah adat kehidupan.

Dan kita melihatnya selalu di laut dan di darat. Ada pasang surut air dan ada perubahan musim juga.

Jika kita berasa seperti mahu kalah, kena ingatkan kembali sebab-sebab mengapa kita masih mampu bertahan!

No comments: