Total Pageviews

Monday, March 31, 2014

Thank U My Dear Himawari

Thank u may dear himawari Atira Laila. Remember, the apple never falls far from the tree. Ini adalah kutipan tulisan Atira Laila dalam blognya.



There are some sorts of people who might have the tendency of doing something weird . For me and the other two Lailas ; which are Mom & elder sis , we are really affectionate to naming our favorite objects (including animals but animals are obviously not an object & usually have names anyway) especially our cars . Well , for me it’s not just my car but I also named all of my favorite Kuma Kuma toy series that I collected since I was a kid , and I named my dolls , my mobile phones , laptops and anything that I thought ; “it would be very nice if they have a name” .


You see , most of the times I like to treat my beloved things as my pets ; a non-living one . Perhaps this kind of behavior comes from my mom . She has a very deep feeling to each one of her cars , and sometimes ; home and plants . She talks to her cars like they’re her cats and cries a lot when she have to sell one or trade in it with the other new car . It does sound funny , and it is super hilarious in reality but it’s one of the cutest facts about my mom .


I don’t know much about the first two cars Mom bought because I was too little to remember or even care about those pint-sized things . When I was in primary school , I met mom’s third car – I think; a pitch black Proton (I can’t really summon up if it’s Saga or any other Proton’s products but I do recall it was a box-like car) after she trade in her maroon Perodua Kancil – and she cried so hard like a heavy rain with thunderstorm as she had to leave the petite car . Mom called it ‘Hitam’ which means ‘black’ in Malay .


After I went to further my study in diploma , Mom made a surprise by showing her new car – when she came to give me a visit , a white Proton Saga which was quite famous throughout that year . It was more round-in-shape . Mom called it ‘Putih’ (white) , but then we decided to call it Shiro ; which also means white but in Japanese , and of course it is the name of Shin Chan’s puppy .


Shiro stayed with us for 3 or 4 years I think but then after a few unexpected occurrences ; Mom gave it to her sister and she brought home a dark green Honda City . It is a classic one but still in a good condition . Well not fully ; there are some problems we had to fix . For this ancient beauty , Mom decided to call it Adudu .


For your information , Adudu is a fictional character from the famous Malaysian cartoon ; Boboiboy . He is the main antagonist and he is green . Yes , you heard right . He is a green alien . I don’t know much about the character or the cartoon itself – as I’m not that interested to watch it anyway . . . but once again , Mom is weird and she loves the show . She watches the local animation together with my little cousins and sometimes by herself .


Mom’s already 48 years old this year . Despite how she looks and what age she’s getting into ; she will always acts like a funny innocent youngster . Her cheerful faces occasionally make us forget that she’s a cancer patient . Plus , her childish behavior did affects us ; her daughters . We became playful too but only when we’re with her and particular groups of people .


These behaviors of naming object , watching cartoons , talking to things, etc. ; they are a collection of good memories that Mom leaves for us to be remembered . It is undeniable that we grew up differently from some other kids but we have what they might not own . When I was a kid, I cursed myself for the dissimilarities of my life compared to my friends . Now I can’t feel grateful enough. If The Almighty didn't write my whole story in this way ; I wouldn't be me . I would never see how a woman could be stronger than anyone’s expectation in a female race . Mom showed the magic tricks to me . God opened my eyes for me to see it clearly , in a method that only I could understand .


P/S: Happy belated birthday, M
om.

Sunday, March 30, 2014

Perempuan Dalam Penjara

Sajak ini saya dedikasikan kepada perempuan yang berhati perempuan. Bukan perempuan yang menjadi desperado. Bukan juga kepada lelaki yang sememangnya tidak memiliki hati.

“Abang pun kena? Apa salah abang?” tanya dia.

Memang dia tiada kaitan dengan ini sajak, apa lagi dengan ini cerita. Tetapi saya sedang memarahi lelaki (dan kebetulan dia lelaki) yang tiada hati dan perempuan yang hatinya bukan perempuan.

“Tidak rasional kalau begitu. Tidak adil juga menjatuhkan hukum. Tapi tidak apalah, sesekali Yang mahu bercakap di luar kebiasaan...” akhirnya dia berkata sambil berlalu, sebab dia memang tiada kena-mengena langsung dengan kemarahan itu. Dan sebenarnya dia tidak tahu apa-apa.

Bukankah saya perempuan? Dan perempuan tidak boleh menjadi pemimpin sebab selalu kalah dengan emosi.

Dia kena biarkan saya menjadi harimau yang membaham mangsa tanpa memberi salam. Sesekali saya pun mahu menjadi manusia biasa yang biasa-biasa, bukan yang berdiri atas nama seorang yang berpendidikan atau seorang ibu yang menjadi sumber nasihat.

Biarkan saya. Mahu berenang-renang di lautan tanpa sempadan. Atau berlayangan di angkasa tanpa lampu isyarat atau garisan. Biarkan saya terjun dengan segala labu dan gayung.

Ini sajak untukmu, wahai perempuan yang sangat menyedihkan. Dan saya masih terkagum, bagaimana engkau masih tersenyum seperti tiada apa-apa yang sedang rakus mengoyak hatimu. Dan jika engkau terbaca ini, maafkan saya kerana menulis sesuatu yang pernah dahulu saya rasai juga.

Seorang perempuan
dalam penjara
hanya diam
menunggu hukuman
dia menjadi terlalu biasa
dengan dinding empat persegi
yang mengepung ruang
seorang perempuan dalam penjara
dia tidak melangkah pergi
meskipun pintu terbuka
dan selnya tanpa jaringan
atau besi yang menghalang
kerana dia seorang banduan
pasrahnya adalah kesabaran
tanpa peduli
mengunyah hati sendiri

Saturday, March 29, 2014

Mengunyah Hati

Saya tidak pernah melihatnya menangis. Sudah lama dia hanya tahu ketawa. Dia sebenarnya sudah lupa bagaimana mahu menangis.

Tetapi hari itu dia menangis.

“Mengapa?” tanya saya.

Dia merenung ke langit yang gelap.

“Keberanian-keberaniannya mengingatkan saya akan wanita yang pernah merampas sesuatu daripada saya...” ujarnya perlahan.

Dan saya melihat balutan hatinya pecah. Parutnya merekah dan darah mengalir deras. Dia sedang mengunyah hatinya sendiri.

“Hidup mesti diteruskan...” kata saya dengan ayat klise. Betapa mudah mengungkapkan ayat sedemikian guna memujuk orang. Saya sudah lupa etiket sosial kaedah pemujukan yang saya hadam selama sepuluh tahun mengajarnya di kuliah dahulu. Bukan begitu caranya. Bukan begitu.

Rupa-rupanya wanita apabila pernah terluka, mereka tidak pernah melupakan secara total. Mereka memaafkan tetapi ketika episod berulang, meskipun terhadap wanita lain; balutan lukanya akan pecah.

Hidup bukan hanya yang indah-indah. Hari ini kita melihat taman yang dipenuhi bunga, esok pula kita akan melihat lorong gelap yang hanyir dan berdebu.

Meskipun klise, tetapi itulah realitinya. Hidup mesti diteruskan biar apa pun yang akan kita lihat hari demi hari.

“Menangislah. Kamu nampak lebih cantik selepas menangis...” kata saya.

Saya pulang ke rumah. Tidak dapat lena malam itu. Saya teringatkan dia dan tangisannya.

Saya bangun.

Mengunyah hati sendiri sebagai tanda solidariti.

Tuesday, March 25, 2014

Ke Daerah Sunyi

Saya sedang menonton sebuah cerita, apabila tiba-tiba orang itu muncul dengan muka sugul.

Huh! Hati berdetik. Pasti ada berita terbaharu dan bakal melukakan.

Dia membaca teks media conference dalam bahasa Inggeris. Saya menangkap perkataan regret dan ended!

Hmmm...saya pasti anda tahu apa yang bergelombang dalam dada. Cuba menolak-nolak rasa enggan percaya, mustahil sedemikian jauh pesawat itu mengakhiri perjalanannya. Ke suatu tempat yang sangat asing, paling sunyi dan ganas.

Membaca Al-Fatehah untuk mereka yang Muslim, tidak kira hayat mereka masih ada atau tidak. Mengucapkan takziah kepada saudara-saudara yang bukan Muslim sebagai tanda solidariti. Saya kira, kita; anda dan saya sangat berduka dengan khabar ini. Betapalah pula mereka yang mempunyai hubungan darah dengan mangsa.

Tujuh belas hari. Masa yang sangat lama. Berada di lautan paling jauh dan bergelora. Saya tidak dapat membayangkan semua itu.

Ada beberapa teka-teki yang sedang bergentayangan dalam kepala. Saat pesawat itu melakukan pusingan dan terbang ke arah Langkawi, adakah kapten bermaksud untuk mendarat di situ sebagaimana andaian seorang juruterbang berpengalaman? Radar tentera sudah mengesan tetapi mengapa tiada tindak susul?

Sejak mula saya merasakan ada yang tidak kena apabila diumumkan ada tumpahan minyak dan debris di perairan Vietnam. Maka berpusu-pusulah segala pencarian di situ. Nihil. Sonder bukti.

Dan sebenarnya ada sesuatu lagi yang sedang bergolek-golek dalam hati tetapi agak sensitif untuk diperkatakan. Tarikh kehilangan dan tarikh pertemuan. Apalah ia suratan atau kebetulan? Apakah Allah mahu memberitahu kita sesuatu? Sebelum bala yang lebih berat menimpa?

Saya kasihan dengan keluarga mangsa. Lebih kasihan kepada CEO MAS yang saya fikir menanggung beban yang sangat tidak tertanggung dalam tempoh beberapa minggu ini.

Allah sedang menguji kita.

Jika orang melihat pengakhiran perjalanan penumpang dan anak kapal itu sebagai sesuatu yang menyukarkan, bagi saya mereka adalah insan terpilih. Bayangkan seluruh umat berdoa untuk kesejahteraan mereka. Masya-Allah. Subhanallah.


Setelah tujuh belas hari
berdiam diri
Engkau dikhabarkan mengakhiri
Perjalananmu di lautan paling sunyi
Kembalilah kalian dalam dakapan Illahi
Dengan doa kami mengiringi...

Sunday, March 23, 2014

Menunggu Pulang



Seorang rakan, bekas juruhebah terkenal RTM, Zainal Abas (Kasajiza AS)yang kami sapa sebagai Abangcik, memuatnaik sajak ini di dinding laman sosial saya. Eh, nama saya disilap eja menjadi Rahna Laila. Selalunya nama ayah yang silap menjadi Shahidan atau Sahidin. Waktu mula-mula menulis dulu, ada pengkritik sastera menulis nama saya sebagai Ratna Laila Sari Dewi! Lagi teruk!

Saya pun menukar baju dan segera ke kedai. Ada pemandu wanita yang naik kereta mewah menjeling-jeling saya sebab dia mahu memarkir di tempat yang saya telah parkir. Biarlah, saya pakai kereta buruk pun bukan guna duit dia! Itulah dunia, kita selalu menampal-nampal dunia dengan kehebatan materi yang akhirnya akan kita tinggalkan begitu sahaja.

Saya membeli beberapa akhbar walaupun sebenarnya saya tidak baca pun. Akhbar-akhbar itu akhirnya akan jadi alas waktu saya menyiang ikan. Mahu hadam bagaimana kalau ruangnya dipenuhi berita hiburan dan senget sebelah!

Tidak banyak yang saya boleh lakukan hari ini. Kena rehat sepanjang hari. Loceng amaran telah berbunyi sedikit. Dan hanya yang telah mengalaminya akan faham. Sekarang saya sudah ada kawan se"anugerah" di jabatan, maka saya tidak akan bersendirian sebab sudah ada yang mengerti sama ada siang itu cerah atau kelabu. Esok akan cuba mengemas rumah dan menulis apa yang tertangguh sebab waktu tamatnya tinggal lagi seminggu. Mudah-mudahan Allah berikan saya ilham.

Walaupun kita disibukkan dengan urusan yang rencam, hati masih mengharapkan keajaiban. Saya memang tidak mahu lagi menonton berita atau PC mengenai MH370 itu. Yang tinggal kepada kita ialah sepenuh harapan kepada Allah. Cuma janganlah kita sibuk bersolat hajat sedangkan solat lima waktu kita abaikan. Janganlah ada waktu kita mengangkat tangan berdoa sedangkan pada waktu yang lain, kita berjogetan.

Hari ini giliran orang lain yang Allah uji. Itu sebab kena ada empati.

Orang-orang yang ada dalam pesawat itu tiada kaitan persaudaraan pun dengan kita. Tetapi kita berasal dari Pencipta yang sama. Pedih hati ahli keluarga, tidak mampu kita rasai. Berat mata memandang, berat lagi bahu yang memikul-mikul terutama tatkala ada yang celupar dan tiada otak menimbulkan tuduhan tidak berasas.

Kami akan terus menunggu pulang.

Saturday, March 22, 2014

Manisnya Sabar

Awal pagi memasak makanan untuk dibawa ke Puncak Alam. Kemudian singgah di Bangi mengambil budak yang sulung. Sepanjang perjalanan, seronok betul dengan telatah bunga matahari yang sulung itu. Dia agak gusar dengan tesis yang belum ada kata putus, mahu buat kesusasteraan Inggeris sama seperti tesisnya saat diploma, universitinya tidak membenarkan. Pilihannya ialah terjemahan, hanya dia seorang yang mahu buat benda itu. Kawan-kawan yang lain tidak berani. Tidak mengapalah, kata saya. “Kakak ada pengalaman buat terjemahan di ITBM dulu, kan?”

Kalau dia stres, lain macam telatahnya sekarang ini. Walaupun sudah berubah menjadi lebih sabar dan tenang (dalam usianya dahulu, saya sudah punya anak seorang...dialah!); kadang-kadang “anak kecil” yang terkurung dalam dirinya terlepas juga. Semua benda yang saya cakap, dia akan jawab dengan nyanyian. Kalau sedap tak apa, lagu dan senikatanya sudah jadi macam Wonderpets!

Sampai di Puncak Alam agak lewat sebab kena singgah beli sate kajang pula. Tidak sampai hati saya apabila katanya dia kepingin sate kajang. Bunga matahari yang bongsu kurang sihat, asyik bersin sebab selesema. Selepas makan dan solat, menghantar kereta si adik ke bengkel. Paip pendingin hawanya bocor. Menurut Cina bengkel, bunyi kuat apabila kereta itu bergerak disebabkan mekanik yang sebelum ini memasang drive shaff dengan cara yang tidak betul. Hmmm...ini yang buat saya elergik dengan mekanik Melayu! Terpaksalah saya membayar lagi untuk pemasangan yang lain.

Pergi dan pulang, jalan sesak. Lengan kanan sudah rasa lain macam. Cuti pertengahan semester sekolah, barangkali itu sebab kesesakan berlaku.

Budak yang bongsu itu memberikan hadiah tiga komik dan satu buku Dr MAZA. Dia semacam tahu saya suka baca tulisan bekas mufti itu. Komiknya pula ialah Town Boy oleh Dato’ Lat (orang Kg Sg Rokam, Ipoh), Lawak Orang Malaysia oleh Nudin (orang Kg Sauk, Perak) dan Aku, Kau & Ibu oleh artis-artis Komik-M.

Saya mahu kongsikan apa yang sangat menarik hati saya dalam komik Aku, Kau & Ibu.

Ada satu watak ibu yang sedang menghadapi ajal itu berkata, “jadilah orang yang bersabar kerana tidak akan ada orang lagi yang bersabar ke atas kamu selain diri kamu”.

Maksudnya ialah, “orang yang paling bersabar dengan diri kita adalah ibu kita. Tidak akan kita temui lagi orang yang sesabar ibu kita. Malah pada saat kita tidak sabar dengan diri kita, ibu kita yang datang meminjamkan sabarnya. Kesabaran ibu kita itulah yang menjamin sabarnya Allah dengan kita. Pada ketika ibu sudah hilang sabar dengan anaknya, hilanglah redho ibu, maka hilanglah juga redho Allah”.

Demikianlah benarnya kata-kata itu. Meskipun dari sebuah komik, ia memberi peringatan dan pengajaran yang sangat berkesan.

Malam itu, dalam kepenatan, si adik mengirim mesej.

“Adik demam tapi mahu alihkan kereta di parkir. Entah bagaimana, terlanggar tembok sedikit...”

Sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrr...

Kereta kita selalu mempunyai telepati apabila semakin dekat hari gaji!

Ya, gaji kita itu sudah ada pecahan rezeki untuk orang lain.

Tidak mengapa. Kereta boleh dibaiki. Alhamdulillah, bukan hati kita yang rosak.

Thursday, March 20, 2014

Engkaukah Itu Di Hujung Mataku?

Hari ini empat puluh delapan tahun yang lalu, lebih kurang jam sebelas lebih sedikit, mak melahirkan saya. Khabarnya kelahiran saya agak payah sebab kedudukan menyongsang.

Kata mak, saya keluar “menendang” dunia.

Ada anak mak yang keluar buntut dahulu.Saiznya sangat kecil. Itu abang saya. Tetapi sekarang abang tegap tinggi walaupun kurang sedikit tingginya daripada ayah.

Ada juga yang keluar dalam sarung. Kena turis dahulu sarung itu sebab ada bayi di dalamnya. Itu adik yang di bawah saya.

Ada yang kembar juga. Dua pasang kalau tidak silap saya, tetapi meninggal.

Kalau dengar mak berkisah memang seronok. Gaya mak berkisahan itu memang dengan penuh perasaan. Ingatan mak masih kuat untuk mengenang setiap kelahiran puluhan tahun dahulu.

Ayah pun pandai berkisah. Dan sehingga kini saya terkilan sebab tidak pernah mencatat segala kisah ayah tentang susur galur keluarga kami. Juga tidak lagi menyimpan tulisan jawi ayah yang sangat cantik.

Pagi-pagi saya menelefon mak. Mak agak lemah hari ini. Entah mengapa, berasa letih. Tetapi tatkala saya beritahu, “mak, hari ini Yang lahir. Yang sudah empat puluh delapan...” nada mak berubah. Mak ketawa dan menyebut, “oh, itulah agaknya kenapa mak rasa lemah. Haba hari lahir Yang...”

Saya ucapkan, “terima kasih mak”. Hujung minggu ini saya carikan hadiah mak sebab mak yang layak diberi hadiah. Mak yang penat meneran bayi songsang. Tetapi ayah tidak sempat melihat saya yang sudah empat puluh delapan. Ayah tidak sempat melihat saya menjadi tua.

Pagi-pagi di surau, saya menangis. Saya berdoa agar segala pengorbanan mak dan ayah melahir, membesar dan mendidik saya akan menjadi pahala yang berpanjangan buat kedua-duanya.

Hari jadi yang sunyi. Anak-anak di kampus dan suami keluar daerah. Sebenarnya dia telah bercekcok juga dengan bos-bosnya yang “menitahkan” dia untuk keluar daerah secara mendadak sedangkan dia ada perancangan mahu menyambut hari lahir saya.

Tidak mengapalah. Meskipun kecewa tapi saya sudah tua dan sudah biasa juga bersendirian.

Bagi orang Islam, hari jadi bermakna semakin menjadi tua. Kemudian semakin dekat akan penamat kepada kehidupan. Waktu inilah kita mahu memeriksa kantung bekalan. Cukupkah nanti untuk bekalan ke negeri abadi?

Apa pun, saya gembira menatap album kehidupan yang pelbagai warna.

Untuk mak...engkaukah itu di hujung mataku?

Ya...memang selalu. Di hujung mataku ada kamu.

Di dasar hatiku juga!

Wednesday, March 19, 2014

UTOPIA...

Melihat hujan yang jatuh menimpa aspal, adalah sesuatu yang sangat meriangkan.

Musim kering ini barangkali sudah tiba waktu pamitnya. Pokok-pokok sudah mula tersenyum. Dahaga yang berterusan telah mengeringkan daun. Daun-daun itu bersepahan di lantai bumi, menyebarkan pula debu-debu halus yang hinggap di kereta dan tingkap rumah.

Membayangkan negara tercinta ini melalui cuaca empat musim. Telah hilang musim panas yang menyambar kulit. Diekori rapat musim luruh, musim bunga dan musim dingin.

Sudah pasti orang-orang akan berhenti bercekcok tentang politik yang haru-biru sebab orang-orang sibuk dengan keanehan musim yang berganti. Maka aman damailah udara tanpa ada sentimen perkauman, fitnah, umpat keji dan segala macam kebejatan.

Masjid-masjid penuh dengan jemaah tanpa mengira waktu. Surau-surau juga begitu. Orang ramai sudah berpaling kepada agama kerana bimbang kiamat sudah dekat. Penganjur-penganjur konsert gulung tikar, atau beralih kepada konsert yang dipenuhi elemen ketuhanan. Pengedar-pengedar dadah juga kecewa dan akhirnya mereka sendiri yang mengambil bahan terlarang itu, langsung mati.

Anak-anak kembali menghargai orang tua mereka sebab mematuhi kata-kata nobody is clever than their parents. Kegemparan-kegemparan seperti perubahan musim itu, menyebabkan semuanya juga berubah tiga ratus enam puluh darjah. Murid menjadi patuh mengikuti peraturan sekolah. Guru mengajar dengan penuh komited. Akhbar-akhbar pun sudah berhenti memainkan isu fitnah.

Tiada sampah di jalanan. Tiada bayi yang dibuang. Tiada bomoh dan tikar terbang. Bubu pula kembali kepada fungsinya yang asal iaitu untuk menangkap ikan.

Orang bersopan santun di jalan raya. Polis trafik hanya duduk melihat dari bawah pokok sambil minum air cincau. Pencuri pun sudah tidak mahu mencuri. Pengawal keselamatan akhirnya tiada kerja dan pulang ke kampung menjadi petani.

Semua ini poyo!

Utopia!

Monday, March 17, 2014

Hirisan Duka

“Puan, maaf kalau pertanyaan saya berbau provokatif. Puan boleh buat pilihan untuk tidak menjawab kalau puan tidak suka. Saya mahu tanya, adakah Islam mengikhtiraf bomoh yang seperti di KLIA itu?”

Siswa lelaki bukan Muslim itu bertanya lantang. Saya tersenyum. Dalam senyuman itu, hati saya terhiris sebenarnya. Bukan sebab soalan siswa berusia dua puluh tahun itu. Bukan! Tetapi ada yang lebih daripada itu.

“Tidak!” Saya menjawab tegas.

“Islam tidak mengikhtiraf perilaku sedemikian. Walaupun kedengaran beliau menyebut Allah hu Akbar dan mengangkat tangan seperti berdoa, tetapi amalan itu seakan memperolokkan agama apabila dicampur aduk dengan perlakuan yang awak sendiri telah lihat...”

Beberapa orang mengangguk-angguk.

“Rawatan perbomohan atau sebarang kaedah perubatan alternatif, hatta perubatan moden sekali pun tidak salah tetapi mestilah mengikut peraturan yang ditetapkan oleh agama. Pengamal perubatan sama ada yang moden atau alternatif, tidak boleh bersikap angkuh dengan mendabik dada bahawa mereka memiliki magis dan kekuasaan melebihi kekuasaan Allah SWT. Itu yang menjadi kesalahan..”

Saya tidak pandai berhujah tentang agama. Sejujurnya pengetahuan agama saya terlalu cetek.

Ada beberapa hal lagi yang saya ulas. Tetapi kesimpulan yang saya buat ialah, perbuatan itu bukan sahaja memalukan Malaysia bahkan sebagai umat Islam, pasti berasa lebih malu.

“Bukan semua yang dilakukan oleh orang Melayu mengikut ajaran Islam,” kata saya. Saya tidak mahu mereka salah faham bahawa apa sahaja amalan adat atau upacara orang Melayu adalah daripada ajaran Islam. Saya memberitahu mereka Melayu ini sama sahaja seperti orang India, Cina, orang dari Amerika, Arab atau Sweden yang memiliki budaya hidup mereka sendiri tetapi memilih Islam sebagai agama anutan. Ada yang terus meninggalkan cara hidup mereka yang bertentangan dengan hukum agama, ada yang menjadikannya satu campurisation atau dalam tasawur dan kosmologi Melayu disebut sebagai sinkretisme.

Saya sudah cemuih dengan cerita bomoh bubu ini. Tetapi ia telah menjadi satira nasional dan internasional. Apabila pelajar bertanya, menjadi kewajipan untuk kita menjawab sebagus mungkin, apa lagi jika ia melibatkan soal agama.

Inilah beberapa contoh peringatan Allah kepada kita.

Tidak tahulah sama ada kita sudah mula sedar diri atau tidak.

Atau terus-terusan membukakan pintu untuk maksiat seluas-luasnya.

Saturday, March 15, 2014

Abracadabra...



Enam maut di konsert? Ada yang Melayu? Ambil dadah?

Hmm...di saat seluruh negara sedang berduka, di saat semua orang di dunia ini berdoa dan membantu mencari pesawat yang hilang, di saat kita sedang menghadapi musibah jerebu, musim kering, denggi...ada juga pihak yang meluluskan permit untuk sekumpulan makhluk berbuat onar.

Khabarnya konsert itu tiga hari dan pengunjungnya mesti berusia delapan belas tahun ke atas.

Gila!

Sama gila dengan raja segala bomoh yang suka menampar buaya dan manusia.

Tidak serik-serik kita tatkala sudah beberapa kali ditegur Allah. Langsung tiada sensitiviti dan simpati.

Harap-harap selepas ini jangan ada yang buat gila lagi dengan hal-hal yang semacam sudah dikarang. Karangan kita tidak sehebat karangan Allah SWT. Betapa pun hebatnya kita di dunia dengan segala perancangan dan muslihat, suatu hari nanti kita akan diadili di mahkamah-Nya.

Semua orang diajak untuk menjadi gila. Sekolah tinggi-tinggi, kemudian taksub dengan bomoh!

Dan pagi ini bergelimpangan buaya-buaya di sungai dan zoo pitam sebab kena tampar dengan raja segala bomoh!

Thursday, March 13, 2014

Harmonika Dan Jerebu

Bunyi tiupan harmonika itu sangat merdu. Dan sayu juga. Lagunya manis sekali, sebuah lagu Inggeris yang saya lupa tajuknya.

Saya mengintai ke seberang. Seorang lelaki peniup harmonika. Tidak tahu berbangsa apa sebab dia membelakangi saya di laluan bersebelahan, iaitu jejantas ke stesen LRT.

Saya terpaku lama di situ, menghayati iramanya yang menyedihkan. Dia tenggelam dalam keasyikan, muziknya menerawang dalam langit Bandar Tasik Selatan yang berjerebu.

Beberapa orang memakai topeng hidung.

Langit tidak berawan. Pembenihan awan tidak dapat dilakukan sebab awannya tiada. Bagaimana mungkin boleh membenihkan bayi jika tiada rahim?

Bunyi tiupan harmonika sangat kuat sehingga saat mahu melangkah ke perut gerabak, saya masih mendengarnya dengan jelas sedangkan dia meniupnya di atas dan kami menunggu di bawah.

Dan bunyi itu terus bersipongan dalam minda ketika saya disambut langit kelabu Bandar Seremban.

Kesedihan-kesedihan yang melanda negara mutakhir ini seperti sedang ditangisi dengan bunyi tiupan harmonika lelaki itu. Namun tiba-tiba ada sekumpulan orang melakukan aksi di KLIA persis filem Laksamana Doremi.

Yang buat lawak bodoh, khurafat, sesat dan yang seangkatan dengannya itu memang sudah pelik. Tetapi orang atasan yang memanggil mereka melakukan ritual itu sejuta kali “boni” daripada yang “boni”. Sungguh memalukan apabila media Arab mengeluarkan berita “Sihir adalah jalan terakhir Malaysia dalam usaha mencari pesawat yang hilang”.

Saya rasa mahu jadi macam burung unta. Menyorokkan muka ke dalam lubang!

Wahai bomoh dan yang memanggil bomoh, negara kita ini sudahlah sedang menempuh banyak musibah. Kemudian kita buat kerja khurafat dengan melaung-laung nama Allah. Sepatutnya banyakkan solat hajat, penuhi masjid dan surau, hentikan pesona fitnah...

Daripada memanggil Bomoh VIP lebih baiklah kita kumpulkan para ulamak.

Berleter-leter pula saya hari ini. Sebab waktu di dalam teksi, pemandu itu bercerita tentang ritual bomoh di KLIA. Saya memang tidak menonton TV, hanya nampak dalam laman sosial. Internet pula ada masalah sejak beberapa hari ini. Waktu mula-mula tengok, saya fikir ada pertandingan lawak jenaka. Saya langsung tidak percaya dalam semua orang sibuk melakukan solat hajat, boleh pula orang ini berdayung di atas simen dengan kelapa, bakul, teropong dan bubu!

Apa pun, saya tangguhkan dahulu kisah saya melakukan ujian saringan kali kedua dalam tempoh tiga minggu yang dibuat dari jam 9.30 sehingga 12.30. Tabik kepada para doktor dan pakar di HUKM. Anda memang yang terbaik. Walaupun prosesnya lama tetapi saya melaluinya dengan gembira, melihatkan kesungguhan Dr Sara dan petugas-petugasnya yang santun berbudi.

Pokok setawar di tepi tangga,
Ditiup angin lemah gemalai,
Walau ditawar emas sejuta;
Budi kalian takkan ternilai.

Wednesday, March 12, 2014

The Happy Ending Story...Hopefully!

Pagi ini saya menjadi Cindarella, ditemani Adik Faiz mencari sebelah kasut Sembonia yang tercicir sewaktu kejadian kereta yang kekeringan air. Suami menuang air yang banyak ke dalam tangki malam semalam. Waktu mahu membuka tangki, dia mengambil suratkhabar yang di atasnya ada kasut. Agaknya kasut itu tercampak ke luar kereta. Nasib baik jumpa di atas rumput. Nasib baik juga tidak penyek dilanggar kereta. Alhamdulillah.

Petang itu pula di Balai Islam.

Usai Zuhur, kami melangsungkan solat hajat untuk memohon agar musim kering ini segera disergah hujan dan juga agar dipermudahkan segala urusan berkaitan pencarian MH370 yang masih kekal misteri.

Jam 2.48 petang telefon berbunyi. Tertera di skrin “HUKM”. Hati saya bergetar sedikit. Suara Dr Sara di hujung talian.

“Pakar bermesyuarat sebentar tadi dan memutuskan untuk meminta puan melakukan ujian sekali lagi esok pagi. Tetapi saya sudah melihat hari itu dan saya rasa tiada apa-apa, cuma oleh sebab sejarah perubatan puan, pakar mahu kepastian tentang apa yang mereka lihat daripada gambar mamo dan ultrabunyi...”

Dr Sara berkali-kali memberitahu, “jangan risau. Jangan susah hati...” kemudian menyambung, “jika perlukan biopsi, we will do it by tomorrow as well. Tapi kami akan bincang dulu dengan puan sama ada puan bersedia untuk itu atau tidak”.

Waaaaaaaaaaaaaaaa......................maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak........

Sebenarnya saya sudah agak sebab sudah masuk tiga minggu ujian saringan dibuat tetapi apabila saya ke Klinik Surgeri pada hari Khamis dan Onkologi pada hari Isnin lepas, keputusan belum dihantar.

Mungkin betul tiada apa-apa. Pakar hanya mahu memastikan tompokan yang dilihat itu diambil gambarnya sekali lagi. Kalau mereka mahu biopsi, lakukanlah. Saya tiada masalah untuk menahan sakit asalkan tidak menyusahkan hati mak untuk kesekiannya lagi.

Dan saya teringat sesuatu...

Ada seorang lelaki yang terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Kapalnya karam dan hanya dia sahaja yang selamat. Setiap hari dia meninjau di kejauhan melihat jika ada kapal yang lalu tetapi hampa. Setelah beberapa lama, dia mengambil keputusan membina pondok kecil untuk melindungi dirinya daripada terik matahari dan hujan malam. Suatu hari dia masuk ke hutan untuk mencari makanan. Apabila pulang ke pondoknya, didapati pondoknya itu telah terbakar. Hanya tinggal kepulan asap naik ke langit. Dia berasa sangat kecewa.

“Kenapa mesti aku yang menerima dugaan yang bertimpa-timpa ini! Kenapa mesti aku dan bukan orang lain?” dia meratapi takdirnya.

Tiba-tiba dia ternampak sebuah kapal menuju ke pulau tersebut dan akhirnya dia diselamatkan. Kemudian dia bertanya kepada nakhoda kapal, “bagaimana tuan tahu yang saya ada di pulau itu?”

Nakhoda itu menjawab, “kami ternampak asap berkepul-kepul di udara dan kami tahu mesti ada seseorang yang terkandas di pulau yang tidak berpenghuni ...”

Pengajarannya ialah, sesuatu yang kita sangka buruk bagi kita barangkali menjadi sebaliknya. Jangan bersangka buruk dengan ujian Allah sebab di sebalik setiap ujian itu ada sesuatu yang dijanjikan Allah.

Cerita lelaki yang mengalami happy ending itu barangkali akan berlaku kepada kita. Dan saya juga.

Monday, March 10, 2014

Daripada Ribuan Perjalanan

Jam tujuh lebih sedikit, saya bawa adik makan roti canai. Saya menjangka jika dia bergerak jam delapan, sekitar jam sembilan empat puluh lima dia akan tiba di kampus. Kuliah bahasa Jepunnya bermula jam sepuluh.

Kedua-dua anak itu mengambil bahasa asing. Saya mensasarkan sekurang-kurangnya mereka memahami tiga bahasa seperti saya. Memahami ertinya bukan bertutur dengan fasih. Sekarang hanya dua sahaja yang mereka fasih, satu boleh membaca dan menulis sedikit-sedikit.

Saya menghantarnya dengan doa dan ribuan pesanan seperti biasa. Mudah-mudahan dia dan kenderaannya terpelihara, begitu juga dengan pengguna lebuh raya yang lain, cuaca cerah dan jalan lapang.

Saya bergerak ke stesen. Seperti yang dijangka, tren lama tiga gerabak muncul ketika saya selesai mengambil tiket. Dalam hati saya rasa agak mustahil untuk sempat menaiki tren disebabkan saya kena menyeberang ke platform sebelah. Berjalan menaiki dan menuruni tangga jejantas.

“Tak apa, kalau Allah mahu saya naik tren ini, ada rezeki saya...” kata saya dalam hati.

Sampai sahaja, pintu tren tertutup. Saya mahu melencong ke bangku ketika tiba-tiba pintu tren terbuka semula. Memang Allah mahu saya naik tren ini agaknya, fikir saya. Saya terus masuk di pintu pertama yakni koc yang bercampur lelaki wanita.

Hmmm...semua mata menyoroti saya yang bergerak terus ke hujung koc. Saya masih ingat dahulu ketika ada ahli parlimen yang mahu koc asing untuk wanita, ada suara-suara sumbang yang menyeranah saranan itu. Tetapi akhirnya kerajaan akur setelah beberapa lama. Barangkali melihat contoh-contoh yang dilaksanakan negara bukan Islam seperti Jepun.

Memang saya kurang selesa. Wajah-wajah asing dengan loghat berbeza menyebabkan tidak sukar meneka status kewarganegaraan mereka. Saya pula menjadi orang asing di situ. Mata mereka masih menyoroti saya atas bawah. Ini mak cik tua, kalau anak gadis?

Saya mengambil surah kecil dan membaca demi mengelakkan mata bertembung dengan pandangan mereka. Kemudian tren berhenti di stesen pertama. Lekas saya bangun dan menolak pintu berat dengan tangan yang masih sakit. Mencelah masuk ke koc perempuan di tengah-tengah.

Lega!

Di situ pun ada warga asing tetapi tidak mengapalah sebab perempuan. Wajah mereka pun beriak manis dan santun. Dua anak kecil, lelaki, bicara bahasa Melayu Indonesia. Anak kecil itu jelas wajah kecinaan tetapi barangkali sudah biasa berbahasa demikian dengan bibik yang menemani mereka dalam tren.

Bukan saya prejudis sebab mak ayah mendidik kami dengan menanamkan semangat persaudaraan sesama Islam dan solidariti dengan bangsa yang bukan Islam. Anak-anak angkat mak terdiri daripada orang pelbagai negara, sahabat-sahabat keluarga juga terdiri daripada bangsa berbeza. Saya masih ingat mak berkata, “orang Melayu kita pun jahat. Dengki. Mencuri. Bunuh orang! Allah sayang kita bukan sebab bangsa!”

Di hospital, sambil menunggu, saya melihat skrin televisyen yang masih memaparkan misteri kehilangan pesawat. Sana sini terdengar orang bercakap tentang hal itu dengan spekulasi dan konklusi. Di Farmasi Satelit, saya jumpa kawan “seradioterapi”, sudah kurus sedikit, nampak cengkungnya.

“Doktor tak nampak masa mamo. Mereka mahu saya buat lagi sekali awal Jun...” katanya. Saya teringat juga, laporan mamo saya yang belum siap-siap padahal sudah masuk tiga minggu.

Mengambil bekalan Mister T untuk stok tiga bulan, saya segera ke tempat teksi. Berbaris kami menanti sebab entah apa kenanya teksi langsung tiada. Tiba-tiba seorang perempuan India, muda sekitar 30-an dan berbadan gempal, berkain batik sahaja, memotong barisan. Pak Cik India di belakang saya menegurnya dalam bahasa Tamil, meminta dia ikut barisan. Pelik betul, dia buat muka kosong dan selamba saja meluru ke teksi tanpa mempedulikan teguran pak cik itu serta kami yang berbaris panjang. Hatinya mungkin diperbuat daripada batu.

Pak cik India itu sangat marah tetapi saya rasa dia seorang bekas guru sebab akhlaknya kelihatan persis guru.

“Negara kita sudah banyak orang jadi macam ini sekarang. Tak apa, kalau dia buat macam itu, nanti dia akan kena. Saya yakin dia akan kena benda buruk juga...” pak cik itu mengulang-ulang ayatnya.

Kemudian seorang lelaki Melayu buat perangai sama cuma dia pergi agak jauh dan menahan teksi. Kami serentak menggelengkan kepala. Teruk betul. Buat penat sahaja cikgu-cikgu mengajar pendidikan sivik (atau tatarakyat) dan menerapkan nilai-nilai murni di sekolah dahulu.

Saya melambai-lambai pak cik India yang baik hati itu. Mulanya saya mahu beri dia naik teksi dahulu tetapi badan saya sudah kepanasan. Cuaca terik amat. Pandangan berpinar-pinar. Pak cik itu pun suruh saya naik teksi, “nasib awak baik...itu teksi sudah datang...”katanya.

Naik tren untuk balik, sekali lagi saya naik tren lama. Apa boleh buat. Pintu antara kocnya asyik terbuka dan terkatup mengeluarkan bunyi bising dan ngilu. Dalam koc ramai masyarakat India. Saya tekun memerhati seorang nenek yang nampak sama macam nenek yang saya lihat dalam filem Tamil semalam. Dia memakai subang di hidung. Ada cincin di hampir semua jari tangan dan dua jari kaki. Gelangnya banyak di kedua-dua belah tangan. Ada tanda merah di dahi, ada juga tanda berwarna putih sebaris. Nenek itu ramah juga. Sambil makan sireh, dia senyum-senyum dengan semua orang. Kemudian saya ternampak sesuatu di tangan kanannya. Nenek membuat tatu?

Kebetulan sementara menanti onkologis tadi, saya membaca majalah National Geoghraphic mengenai India. Saya pun memang suka melihat filem Tamil yang pada pendapat saya, begitu menghampiri realiti. Abaikan tarian dan nyanyian sebab bahagian yang itu saya tidak suka. India sebuah negara yang menarik. Masyarakatnya, budaya, bahasa dan keberanian para seniman mengkritik sangat mengkagumkan saya. Saya paling suka melihat tatarias wanitanya!

Perjalanan kecil ke hospital hari ini dalam masa selang tiga hari, banyak memberikan saya pelajaran.

Pertamanya, mendengar orang bicara tentang isu kehilangan pesawat, mengingatkan saya akan gurauan teman, “kalau ada insiden besar seperti ini, ramai orang kita yang tiba-tiba menjadi pakar Maggie...”

Maksudnya ialah “pakar mi segera”.

Keduanya, ilmu tanpa amal seperti sungai tanpa air, merujuk kepada situasi waktu menunggu teksi. Tanpa disiplin dan rasa keinsanan, negara tidak akan maju dalam definisi sebenar.

Ketiga, itulah sebabnya Allah menurunkan perintah agar wanita menutup auratnya dengan sempurna dan para lelaki memelihara pandangan mata! Ini merujuk kepada kisah di koc yang bercampur jantina.

Saya tamatkan tulisan ini dengan sebarisan kata daripada Allahyarham T.Alias Taib...hidup bukan satu perjalanan panjang tetapi ribuan perjalanan pendek yang bersambung-sambung.

Adios!

Sunday, March 9, 2014

Sayap Pun Tidak Kelihatan



Sudah melebihi dua puluh empat jam tetapi sidang media yang dibuat kelihatan mengulang cerita sama. Kasihan melihat wartawan yang mahukan berita. Jangan salahkan mereka jika kita masih belum tahu apa-apa. Begitu juga dengan pihak terbabit. Banyak yang perlu mereka buat sebelum dapat membuat pengumuman rasmi.

MH370 itu merupakan pesawat yang membawa kami terbang ke Beijing hujung tahun lepas. Sudah sebelas tahun lebih usianya dan pernah rosak pada 2012.

Dunia memberikan tumpuan kepada Malaysia, kali ini dengan simpati. Negara kita beberapa tahun ini memang selalu mencuri tumpuan, walaupun kebanyakannya berunsur negatif.

Inilah kali pertama saya menonton berita sampai habis. Menelefon mak, mak kedengaran sebak. Biasanya mak ke negara luar dengan pesawat MAS, sesekali dengan penerbangan tambang murah. Saya yang langsung tidak pernah menggunakan perkhidmatan selain MAS sebab saya lebih selesa menaiki MAS. Saya maklum akan kepakaran juruterbang syarikat penerbangan itu.

Pihak bertanggungjawab juga tidak boleh marah dengan spekulasi oleh massa. Apabila waktu lompong itu begitu panjang, kemudian dengan wujudnya capaian komunikasi internasional yang berada di hujung jari; maka orang akan teruja untuk membuat spekulasi.

Apa pun, mari kita sama-sama berdoa agar ada keajaiban yang berlaku. Mudah-mudahan benarlah berita bahawa pesawat itu berpatah balik. Bukan terhempas.

Wahai Allah, berikanlah petunjuk agar dipermudahkan segala-galanya.

Jangan berhenti berharap. Dan berdoa...

Saturday, March 8, 2014

Duka Malaysiaku...



Duka Malaysiaku yang sambung-menyambung.

Malam itu terasa lebih hangat dan memilukan. Hukuman yang mematikan hidup dan air mata seorang wanita.

Kemudian, ada bencana lain. MH370 yang hilang daripada radar. Macam-macam yang ditulis orang di laman maya. Ada yang buat spekulasi, ada yang tidak sabar dengan media negara, lantas mengikuti berita daripada agensi berita negara luar.

Saya tidak membaca akhbar atas talian seperti biasa. Saya lebih suka mengikuti status yang sentiasa dikemas kini seorang rakan jurutera kanan yang berpengkalan di sebuah negara luar. Dia menulis tanpa prejudis meskipun saya sangat tahu aliran fikirnya. Beritanya juga berfakta. Bukan sebab alir fikir yang sehaluan, tetapi dia ini sangat bermaklumat.

Biasanya kalau pesawat ke Beijing, akan tiba di Beijing Capital International Airport sekitar enam jam. Apabila hilang daripada radar, pasti ada sesuatu yang berlaku. Sehingga melepasi belasan jam, Malaysia masih tidak mengumumkan apa-apa. Barangkali mereka sudah tahu tetapi mahu memastikan kebenaran. Mengikut SOP.

Jarang ada yang jatuh terhempas masih bernyawa. Namun kuasa Allah siapalah yang tahu. Ini bukan cerita Tarzan yang akhirnya membesar di hutan. Ini realiti yang sangat mendukakan hati.

Rakyat Malaysia terus berdoa agar segala mala petaka ini tidak sambung- menyambung dengan petaka-petaka lain.

Ampuni segala dosa kami dan dosa pemimpin-pemimpin kami. Tunjukkan kami jalan yang lurus. Belum terlewat untuk kembali semula ke pangkal supaya Malaysia akan terus di dalam keberkatan Allah SWT.

Berdoalah untuk mereka, tidak kira siapa...

Friday, March 7, 2014

Selamat Hari Emak Dan Saya



Apabila Islam menetapkan yang wanita itu perlu menutup auratnya dengan sempurna, maka para orientalis, malahan dalam kalangan umat Islam yang berselindung di sebalik NGO wanita; mendakwa bahawa Islam cuba menjadikan wanita sebagai manusia kelas kedua.

Ini tulisan yang sangat berbeza. Kelihatan serius dan barangkali membosankan. Ya, sempena Hari Wanita yang sebenarnya tidak pernah saya sedari kewujudannya. Sebab setiap hari bagi saya adalah Hari Emak Sedunia.

Ada orang memberikan analogi mudah. Begini...kalau diberi pilihan, mahu ambil makanan yang bertutup atau yang dibiarkan terbuka?

Aduhai, sudah marah para pejuang hak asasi wanita sebab menyamakan wanita dengan makanan!

Menutup aurat dengan sempurna bermakna tidak bertudung pendek, bertudung tetapi berlengan pendek, bertudung tetapi kainnya jarang, bertudung tetapi dengan perhiasan berlebih-lebihan....bla...bla...bla...

Tetapi berdakwah janganlah kasar. Jangan mendesak-desak atau memperlecehkan orang. Kadang-kadang budak-budak muda ini pantang disebut “jangan”.

Saya perlahan-lahan beritahu anak bahawa jangan sesekali memakai baju lengan pendek tetapi bertudung. Alhamdulillah, selesai! Itu dahulu. Jangan banyak-banyak, nanti menjadi bola yang dilontar pada dinding. Tiada kesan apa-apa pun.

Alhamdulillah. Yang lain-lain? Perlahan-lahan. Contohnya, tudung yang pendek, nampak dada. Atau baju yang ketat nampak bentuk badan dengan jelas. Atau solekan yang tebal. Atau perhiasan yang boleh menarik mata orang. Dan yang paling penting, perilaku.

Kalau sudah buat silap, persiapkan diri untuk tidak berbuat kesilapan lagi. Mana ada orang suci dalam dunia ini. Kadang-kadang kita yang menutup aurat ini terlupa, bertepuk tampar dengan yang bukan muhrim, buka mulut luas-luas dan ketawa; atau tergedik-gedik macam kucing miang.

Pintu taubat itu sangat besar dan luas. Allah juga sangat suka menerima pengakuan dosa kita. Itu sebab Dia sembunyikan aib kita.

Jangan berebut-rebut mahu membeli tudung dengan jenama hebat sampai melupakan hakikat sebenar kewajipan kita itu. Wanita kalau sudah membeli, boleh buka kedai tudung dibuatnya. Pening kepala suami melihat koleksi tudung pelbagai jenis dan warna. Cantik itu bagus. Tetapi alangkah bagusnya lagi jika kita sentiasa bersederhana dalam berpakaian.

Kasihan suami dan ayah kita. Dosa mereka sendiri pun bertimbun-timbun. Jangan bantu membukitkan lagi dosa mereka disebabkan penampilan kita. Dan para suami serta ayah pula jangan diam sahaja. Jangan pula menggalakkan anak gadis dan isteri memperagakan penampilan secara berlebih-lebihan.

Jangan lena dengan pujian. Itu peringatan untuk saya juga yang cabarannya lebih besar sebab punya dua anak gadis yang telah dewasa. Waktu tidak boleh berputar balik. Kalau tidak, sudah pasti saya “memuslimahkan” pemakaian dan amalan budak-budak itu seperti yang selalu saya impikan dalam doa.

Allah akan memelihara kita, memelihara keluarga, sahabat dan jiran tetangga.

Ayuh, kita menjaga aurat dengan sempurna dan dengan segenap upaya. Itulah satu cara untuk memaknakan sambutan Hari Wanita.

Kita bersolidariti untuk kesederhanaan, kebenaran dan keadilan...dan saya tiba-tiba teringat akan wanita ini...S.Kalaichelvi! dia dipenjara dua tahun kerana membunuh lelaki yang cuba merogolnya.

Dia mempertahankan maruahnya...dan dia dipenjara kerana membunuh perogolnya. Dengan kudrat seorang wanita, dia pasti tidak berniat untuk membunuh tetapi hanya mahu menyelamatkan dirinya.

Tetapi apa mahkamah dunia lakukan terhadap wanita ini?

Dia menjadi banduan, digari dan disumbat ke dalam penjara.

Kata saya, “nak, yang dihantar ke penjara bukan semestinya orang jahat. Yang menghantar orang ke penjara itu yang sebenarnya penjahat!”

Selamat Hari Wanita!

Thursday, March 6, 2014

Jalan-jalan Cari Doktor

Ke hospital lagi. Lamanya masa menanti giliran. Jam satu sepuluh minit baru nama dipanggil buat kali kedua. Yang pertama itu untuk menjawab beberapa soal selidik yang agak sensitif.

Kepada saya, ia bukanlah soalan sensitif mana pun. Menghadapi proses rawatan yang melibatkan sesuatu yang privasi menyebabkan saya sudah tidak kisah. Cuba menjawab sejujurnya sebab dapatan kajian sangat penting untuk membantu pesakit lain.

Mahu menyumbang dalam bentul materi kita tidak mampu. Mungkin jawapan kita itu dapat memberikan idea kepada pengamal-pengamal perubatan ini dalam menangani masalah pesakit.

Si adik balik menghantar telefon bimbit saya yang tertinggal di rumahnya. Tanpa kaca mata yang masih di kedai, budak itu sangat nekad untuk memandu. Mungkin untuk hari siang dia masih dapat melihat dengan jelas. Mujur tidak hujan. Kalau tidak, tentu sukar buatnya.

Jadi, budak itu ikut saya ke hospital. Dia bimbang sebab lengan saya berat. Ada rasa sakit yang sangat nyeri di lengan. Sebenarnya rumah saya ada masalah air yang gagal naik ke tangki. Di sinki sahaja ada air. saya mengangkat baldi tadahan air. Dan itulah puncanya sampai tangan kanan tidak boleh diangkat.

Senget-senget muka saya menahan sakit waktu diperiksa doktor. Enggan memberitahu sebab nanti akan disuruh ke unit fisio.

Laporan mamo belum diterima secara bertulis. Jadi Dr Siva menelefon Dr Sarah. Saya mengucap Alhamdulillah. Mengikuti perbualan mereka, rasanya tiada masalah baharu.

Dalam jemu menanti itu, saya terhibur juga dengan telatah seorang anak kecil berkerusi roda. Merempit pula dia dengan kerusi rodanya, berpusing-pusing dengan gembira. Dalam kalbu ibu bapanya, entah bagaimana rona warna. Tetapi keriangan yang dibawa budak itu seolah-olah memberikan orang dewasa sebuah harapan.

Waktu dibawa suami mencari orang yang boleh mengurut, dia berhenti di masjid. Dia masuk ke masjid meninggalkan saya. Paling ke kiri, alamak...diparkirnya betul-betul sebelah van jenazah.

Waaaaaaaaa...................maaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!

Wednesday, March 5, 2014

Hidup Mesti Diteruskan

Kembali kepada zaman tanpa telefon bimbit!

Saya masih ingat tok dan tokwan (sebelah mak) akan selalu cakap, “pi pukui talipon” atau “pukui taligram” kalau ada sebarang hal yang perlu segera dimaklumkan kepada saudara yang tinggal jauh.

Kenapa “pukul?”

Tidak tahu mengapa istilah itu digunakan oleh orang zaman dahulu.

Kalau mahu telefon, mesti ada beberapa keping duit syiling. Masukkan dalam peti dan mulakan mendail dengan memusing di muka telefon. Nombornya pun tidak banyak seperti sekarang. Kadang-kadang satu telefon akan digunakan satu kampung. Mula-mula pemanggil akan menelefon dan memberitahu orang yang menyambut, dia mahu bercakap dengan siapa. Kemudian dia akan meletakkan gagang. Sesiapa yang menyambut akan segera pergi memberitahu orang berkenaan. Dalam beberapa minit agak-agak orang yang mahu dihubungi itu sampai, si pemanggil akan mendail semula.

Itulah caranya selain daripada surat kiriman biasa. Atau telegram kalau mahu lebih cepat.

Selama tiga hari ini saya tiada telefon bimbit tetapi masih boleh berhubung melalui e-mel dan laman muka buku. Sebentar-sebentar saya membuka e-mel. Biasalah, hati ibu yang dalam kepala otaknya hanya memikirkan anak. Padahal anak-anak itu sudah tua belaka!

Memang hidup saya aman tenteram tanpa gangguan bunyi telefon. Oleh sebab semua maklumat ada dalam telefon, keadaan menjadi sukar sedikit untuk berurusan. Begitu juga dengan penggera bunyi untuk bangun pagi. Jawabnya, sekejap-sekejap saya terjaga. Sebenarnya hampir setiap jam sehinggalah menjelang 6 pagi.

Harap-harap esok saya dapat bangun awal untuk ke hospital.

Meskipun tanpa telefon bimbit, hidup mesti diteruskan.

Tuesday, March 4, 2014

Ibu Bulat

Pernah dahulu waktu menjadi pensyarah di sebuah kolej, badan saya agak berisi iaitu sekitar 69 kilogram. Berat itu tidak sesuai dengan ketinggian. Barangkali lebih sebelas kilo daripada yang sepatutnya.

Anak-anak saya sangat nakal.

Suatu hari mereka meminjam pen-drive saya untuk menyalin sesuatu. Kemudian benda itu saya bawa ke dewan kuliah. Memasang pen-drive tersebut di komputer yang terdapat di situ.

Tiba-tiba satu dewan ketawa. Saya terpinga-pinga. Rupa-rupanya pen-drive saya itu telah diubah namanya menjadi “Ibu Setempek Bulat”.

Balik ke rumah, saya mencari siapa yang punya angkara. Dua-duanya nakal dan mereka mempunyai kesepakatan yang bagus kalau mahu mengenakan saya!

Habis semua pen-drive saya diubah nama. Ada yang “Ibu Bulat” “Ibu Katik” dan sebagainya.

Dan sekarang saya sudah berada dalam berat yang ideal sedikit. Mereka tidak boleh lagi mengusik-usik tentang “bulat” walaupun masih “pendek”. Tapi idea nakal itu tetap ada. Mereka sudah ada nama baharu!

Kita kena awas selalu jika ada anak yang mewarisi minda nakal daripada kita ibu bapanya!

Monday, March 3, 2014

Esok Yang Hilang

Jumaat minggu lepas, sengaja saya menjenguk kubikal Kak Yam di bilik pensyarah kanan.

Sedihnya! Sudah kosong, hanya ada beg dan beberapa buku. Jumaat itu hari terakhir Kak Yam bergelar pendidik.

Saya memasukkan dua helai lukisan komik adik dalam album yang akan diberi kepada Kak Yam. Mudah-mudahan akan ada kenangan antara kedua-duanya. Adik pernah ikut kami ke Kuala Lipis pada 2011 sebab waktu itu universitinya cuti dan saya sudah mula kurang sihat.

Oleh sebab Kak Yam sangat istimewa, saya tulis dua buah sajak khas untuk Kak Yam. Sebuah bertajuk “Menjadi Guru” dan sebuah lagi “Dalam Perjalanan Menuju Gembira”.

Sukar membayangkan hari-hari tanpa Kak Yam. Selepas ini kepada siapa saya mahu bercakap sesuatu yang diam bersembunyi dalam hati. Kak Yam yang rajin melayan saya pun, kadang-kadang berjam-jam mendengar tazkirah Kak Yam usai dhuha, jika kami tiada kuliah.

Kak Yam selalu jadi agen penenang kepada adik-adik yang gopoh dan cemas bekerja. “Tak apa,” katanya selalu, “buat kerja pelan-pelan. Buat ikut upaya kita. Jangan paksa diri. Nanti kalau sakit, siapa yang susah...”

Kepada saya, Kak Yam selalu berleter, “pi rehat. Dah doktor bagi cuti, awat mai jugak?”. Kadang-kadang saya sengaja mahu mengusik-usik. Seronok dengar Kak Yam berleter terutama dalam loghat Kedah yang pekat. Kalau teringat mak, saya akan ke bilik pensyarah kanan dan mencari Kak Yam. Kalau ada masalah yang meruntun hati pun, saya akan cari Kak Yam. Bercakap-cakap sekejap untuk menenangkan tasik hati yang berkocak.

Lama-lama nanti saya tahu, saya akan terbiasa dengan ketidakhadiran Kak Yam. Kesibukan menguruskan kesihatan diri, kerja dan keluarga akan menghilangkan kesedihan. Bukan Kak Yam pergi ke mana pun, dia hanya bersara.

Kak Yam menjadi figur yang akan selalu ada dalam minda. Nasihat dan leteran Kak Yam menjadi ingatan-ingatan berpanjangan.

Semoga Kak Yam ceria dan sihat mengisi ruang persaraan yang menjadi impian semua pekerja. Mudah-mudahan kerajaan mengubah polisi umur persaraan kembali kepada asal iaitu 55 tahun. Anak-anak kita akan ada peluang kerja selepas graduat. Dan saya pun hanya ada lebih kurang tujuh tahun lagi untuk bersara...

Yahuuuu!!!!!!

Sunday, March 2, 2014

Langit Yang Sakit

Kelmarin hujan sekejap. Wap panas membahang naik ke udara. Anak bercanda, "hujan ini sebab ibu menyanyi malam semalam di majlis persaraan Auntie Yam..."

Kelabu di ruang langit. Musim kering menyebabkan berlaku kebakaran di sana-sini. Pasukan bomba yang paling sibuk kalau musim-musim begini. Ada yang berkampung di sisi lebuh raya. Pokok-pokok yang terbakar memberikan satu lukisan aneh. Seperti kiamat sudah dekat.

Kesesakan teruk berlaku. Rupa-rupanya ada lori getah terbakar. Getah dan api, satu pasangan serasi. Kesesakan pagi membawa ke petang.

Di Puncak Alam, air memang dicatu. Mujur apartmen si adik hanya duduk bertiga, seorang sebilik. Pergi membuat kaca mata baharu sebab kaca mata lamanya sudah hilang entah di mana. Bagaimana mahu memandu kalau kerabunan begitu?

Daddynya sampai, mengangkut barang yang berat-berat mendaki tangga apartmen. Kemudian kami tinggalkan dia sendiri, berlari mengharung kesesakan lebuh raya untuk pulang. Langit masih kelabu yang kritikal. Topeng hidung sudah saya buang. Terpaksalah menutup sebahagian muka dengan selendang.

Tekak menjadi kering seperti mahu batuk. Ini bahana musim kering dengan ancaman jerebu.

Panas pijar di mana-mana. Udara sakit. Untuk orang-orang yang berpenyakit, menyedutnya akan menambah penyakit.

Inilah reaksi alam setelah dirinya diperkosa semahu-mahu oleh manusia. Alam yang bersabar akhirnya membalas.

Ini panas dunia.

Bagaimana nanti jika di sana?

Di pertengahan jalan, adik menelefon Daddynya. lelaki itu tergelak pendek dan menghulurkan telefon untuk saya bercakap.

"Ibu tinggal telefon atas katil adik!"

Si Daddy mahu berpatah balik. Saya melarang. Saya hanya mohon keluar empat jam. Tiga hari kembali menjadi saya pada zaman 70-an dan 80-an dahulu. Hidup tanpa telefon bimbit.

Tenang tetapi tidak aman! Asyik-asyik membuka e-mel sebab bimbang kalau anak-anak mengirim khabar berita...

Saturday, March 1, 2014

Hari Menangis Sedunia

Kadang-kadang meskipun sudah berazam, kita tetap kalah dengan emosi dan kenangan.

Tengah hari Sabtu itu, saya dan anak-anak ke majlis kenduri perkahwinan anak bongsu Allahyarham Ustazah Mukarramah.

Saya sudah berdoa banyak-banyak supaya saya tidak merosakkan kegembiraan pengantin dengan kesedihan. Namun tatkala melihat anak itu dengan pakaian pengantinnya ke sana sini meraikan tetamu, saya kalah. Memeluknya saya masih tenang. Tetapi ketika mahu makan dan saya memandang ke sekitar, hati saya menangis, melarat pula ke mata.

Saya membayangkan ustazah masih ada dan dia pasti menjadi ibu paling sibuk di dunia pada hari perkahwinan puteri bongsunya itu, satu-satunya anak yang telah berumah tangga. Anak perempuan tunggal pula. Anak itu manja, persis anak-anak saya. Saya sudah biasa melihatnya sejak dia masih kecil waktu saya dan ibunya menjadi rakan sejawat di kolej.

Saya melihat sekeliling. Ya Allah, saya tidak mampu menelan juadah yang terhidang. Sungguh! Anak itu baru kehilangan ibu dua bulan lalu. Sama ada bapanya, dia, suami dan abang-abangnya; mereka sentiasa cuba memaniskan wajah menyambut tetamu yang datang. Tetapi jauh di sudut hati, hanya Allah sahaja yang mengerti.

Ustazah itu, dalam menangani anak-anaknya; dia persis saya. Anak-anak menjadi keutamaan dalam bicara dan tindakan. Kadang-kadang saya mengikut contoh yang dia buat untuk anak-anaknya.

Waktu mahu pulang, kami berfoto. Saya berpesan kepada suaminya, “jaga adik baik-baik...” dan mula menangis. Sebetulnya banyak yang saya mahu pesan, sebagai lazimnya seorang ibu akan berpesan tetapi kehibaan membuatkan saya gagal untuk bicara. Sepanjang jalan saya menangis. Berhenti sekejap di gigi jalan dan menangis. Anak-anak saya sangat memahami dan mereka tidak memujuk dengan kata-kata. Mereka hanya memegang tangan saya dan memicit bahu. Kalau dipujuk, pasti saya akan menangis lebih kuat dan lama. Itu sangat mereka fahami.

Pulang ke rumah dengan rasa sedih yang berpanjangan. Malam ini kami akan meraikan persaraan Kak Yam pula. Saya menanam azam yang sama. Saya tidak akan menangis sebab Kak Yam mahu bersara dengan gembira. Itulah juga sebabnya petang Jumaat saat Kak Yam melayangkan kad perakam waktu untuk kali terakhir dan orang-orang mula berpelukan dan menangis, saya menghilangkan diri.

Rupa-rupanya Kak Yam perasan akan kehilangan saya.

“Kak Yam dah agak Yang mesti cabut lari...” katanya.

Malam itu saya tidak bersajak seperti biasa. Saya menyanyikan dua rangkap lagu untuk Kak Yam. Saya hanya pernah sekali menyanyi di hadapan khalayak secara berduet. Suara saya tidak enak tetapi saya tetap mahu menyanyi untuk Kak Yam.

Isnin ini saya bukan lagi rakan sejawat Kak Yam.

Ya, apa pun perubahan musim, seperti yang selalu saya ulang dan ulang, kita kena hadapinya dengan berani. Kehilangan seorang ibu seperti Ustazah Mukarramah didepani anak-anak dan suaminya dengan keberanian yang payah.

Dan Kak Yam hanya bersara. Kak Yam masih menjadi pilihan saya untuk bercerita dan bermanja meskipun tidak lagi bertentangan mata.

Saya pasti akan merindui wanita itu...